Era “sneaker free agency” milik Stephen Curry akhirnya resmi berakhir. Setelah berbulan-bulan jadi bahan spekulasi di industri sneakers, Curry mengumumkan bahwa dirinya telah menandatangani kerja sama selama 10 tahun dengan Li-Ning.

Keputusan ini sekaligus menutup babak panjang setelah perpisahannya dengan Under Armour pada akhir 2025. Selama musim 2025–26, pilihan sepatu Curry menjadi salah satu storyline terbesar di dunia basket dan sneakers karena ia tampil memakai berbagai brand berbeda dalam periode tanpa kontrak resmi.
Yang membuat kerja sama ini semakin besar adalah keberlanjutan dari Curry Brand. Brand pribadi milik Curry tersebut dipastikan tetap berjalan di bawah payung Li-Ning, bukan sekadar menjadi endorsement biasa. Model kerja sama ini dianggap sebagai evolusi baru dalam hubungan antara atlet dan perusahaan olahraga, di mana pemain kini semakin mengejar kepemilikan, kontrol brand, dan pembangunan identitas jangka panjang.
Dari sisi bisnis, langkah menuju Li-Ning sebenarnya cukup masuk akal. Popularitas Curry di Asia memang sudah sangat besar selama bertahun-tahun, membuat pasar tersebut menjadi peluang strategis yang sulit ditandingi brand Amerika saat ini. Selain itu, kategori signature basketball di pasar domestik juga semakin padat dengan banyaknya pemain muda dan lini sepatu baru yang terus bermunculan.
Bagi Li-Ning sendiri, perekrutan Curry menjadi salah satu akuisisi terbesar dalam sejarah brand basket asal Tiongkok tersebut. Mereka bukan hanya mendapatkan seorang juara NBA empat kali, tetapi juga salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah basket modern. Kehadiran Curry langsung mengangkat posisi Li-Ning ke level berbeda dalam persaingan global industri sneakers.
Dengan langkah ini, Curry membuka fase baru dalam kariernya, bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai pemilik identitas brand yang memiliki potensi besar di pasar global.