Puasa bukan berarti harus berhenti lari. Tapi juga bukan berarti bisa latihan seperti biasa tanpa penyesuaian. Kuncinya ada di satu hal: atur strategi. Karena saat puasa, tubuh bekerja dengan “mode berbeda”. Nggak ada asupan air dan energi sepanjang hari, jadi kita perlu lebih peka dan realistis.
Kalau tetap pengen lari selama Ramadan, ini beberapa tips yang bisa kamu pegang.
1. Pilih Waktu yang Masuk Akal
Waktu lari saat puasa itu krusial. Ada tiga opsi paling umum:
- Sebelum buka puasa
Cocok buat lari ringan 20–40 menit. Setelah selesai, kamu bisa langsung minum dan isi energi. - Setelah buka puasa
Lebih aman untuk sesi agak panjang karena tubuh sudah terhidrasi. - Setelah sahur
Bisa, tapi pastikan cukup tidur dan nggak terlalu intens.
Kalau lagi adaptasi, hindari lari siang hari yang panas. Energi dan cairan bisa cepat habis.
2. Turunkan Intensitas, Bukan Konsistensi
Puasa bukan waktu yang ideal buat ngejar PB. Fokusnya pindah ke maintenance dan konsistensi.
- Kurangi pace
- Kurangi jarak
- Hindari interval berat
Ingat, tujuan utamanya tetap sehat, bukan overtraining.
3. Perhatikan Hidrasi
Karena nggak bisa minum sepanjang hari, waktu antara buka sampai sahur harus dimaksimalkan.
- Minum bertahap, jangan langsung banyak
- Tambahkan elektrolit kalau perlu
- Jangan cuma kopi atau minuman manis
Kalau tubuh terhidrasi dengan baik, lari bakal terasa jauh lebih stabil.
4. Perhatikan Asupan Makan
Saat sahur, pilih makanan yang:
- Ada karbohidrat kompleks
- Ada protein
- Nggak terlalu tinggi gula
Ini bantu energi bertahan lebih lama dan nggak cepat lemas saat lari.
5. Dengarkan Tubuh
Kalau pusing, lemas berlebihan, atau jantung terasa nggak nyaman, stop. Puasa bukan ajang pembuktian mental. Justru pelari yang dewasa adalah yang tahu kapan harus pelan dan kapan harus istirahat.
6. Jadikan Puasa sebagai Fase Base Building
Menariknya, Ramadan bisa jadi momen bagus buat:
- Banyak easy run
- Bangun aerobic base
- Latih kontrol ego
Kadang, melambat sebentar justru bikin kamu lebih kuat setelah puasa selesai.
Jadi,
Lari saat puasa itu bukan soal kuat-kuatan, tapi soal pintar-pintaran. Atur waktu, atur intensitas, dan tetap jaga tubuh. Puasa boleh, progres tetap jalan, asal tahu batas dan tetap nikmatin prosesnya.