Pertanyaan ini sering muncul, apalagi di kalangan pelari yang baru kena “racun lari.” Jawabannya: bisa iya, bisa tidak—tergantung tujuan, pengalaman, dan jenis latihannya.
Yang Perlu Dipertimbangkan:
- Level pengalaman: Pelari pemula sebaiknya mulai 3–4 kali per minggu dulu.
- Jenis latihan: Kalau semuanya high intensity, risiko overtraining tinggi. Tapi kalau ada kombinasi easy run, recovery jog, dan long run, tubuh bisa lebih adaptif.
- Sinyal tubuh: Kalau muncul tanda-tanda seperti kelelahan kronis, gangguan tidur, atau mood drop, itu alarm tubuh kamu perlu rest.
Menurut riset dari National Strength and Conditioning Association (2014), recovery aktif lebih baik dari total rest dalam meningkatkan performa. Artinya, lari ringan (recovery run) bisa kamu lakukan di hari-hari antar latihan berat.
Coba tanya ke diri sendiri: “Hari ini aku lari karena pengen recovery aktif, atau cuma FOMO?” Kalau niatnya bener, lari tiap hari bisa jadi bagian dari pola hidup sehat.
Referensi:
- National Strength and Conditioning Association (NSCA), (2014). Recovery Techniques for Athletes.
- Smith, D. J. (2003). A framework for understanding the training process. International Journal of Sports Science & Coaching.